Perjuangan dan Pluralisme

0101

 

Gus Dur digelari sebagai bapak pluralisme, karna keberpihakannya kepada kelompok minoritas, baik dalam kalangan muslim sebagaimana pembelaannya terhadap ahmadiyah, maupun kepada kedekatannya dengan kalangan umat kristen dan kathotlik serta etnis Tionghoa. Sikap Gus Dur yang memberi teladan perihal pluralisme tersebut tidak sepakati oleh semua pihak.

Gus Dur menjadikan pluralisme dan pembelaan sebagai kata kunci. Kumpulan tulisan beliau ini berangkat dari perspektif korban, terutama minoritas agama, gender, keyakinan, etnis, warna kulit, posisi sosial. Menurutnya, “Tuhan tidak perlu dibela, tapi umat-Nya atau manusia pada umumnya justru perlu dibela. Salah satu konsekuensi dari pembelaan adalah kritik, dan terkadang terpaksa harus mengecam, jika sudah melewati ambang toleransi.

Gus Dur tidak sedikitpun memberikan gambaran dirinya sebagai penganut Pluralisme dengan pengertian pembenaran seluruh agama atau aliran kepercayaan lainnya dinilai sama derajat keimanannya. Gus Dur memberikan rasa hormatnya kepada setipa ajaran agama atau kepercayaan yang diimani oleh penganutnya. Sikap Gus Dur menghormati keyakinan yang berbeda tidaklah berarti Gus Dur adalah penganut Pluralisme yang membenarkan dan mensejajarkan ajaran agama sama dengan aliran sekularisme. Sebagai Guru Bangsa, Gus Dur berpartisipasi aktif melindungi pelaksanaan ajaran agama dan kepercayaannya sebagaimana yang tertera dalam UUD 1945 Bab XI Pasal 29 butir dua. Sayangnya, gelar Bapak Pluralisme dikumandangkan pada saat Gus Dur dan Presiden ke-4 RI pulang ke Rahmatullah.

 

 

Nanang Kurniawan

Digital Imaging